Refleksi Podcast:
Prakiraan Musiman SINTEX-F dan Program Ketahanan Pangan Nasional
Studio RRI Bandung, 19 Januari 2026
Narasumber:
- Dr. Swadhin K. Behera
Director, Application Laboratory
Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) - Dr. Fadli Syamsudin
Kepala Kajian Manajemen Iklim dan Maritim
Universitas Padjadjaran (Unpad), Indonesia
Narasi oleh:
Hengki Hamino
Ketua Yayasan Garuda Di Lautku Inisiatif
Podcast ini mempertemukan para pakar terkemuka dari Jepang dan Indonesia untuk membahas peran prakiraan iklim musiman SINTEX-F dalam memperkuat strategi ketahanan pangan nasional. Dr. Behera menyoroti kemajuan ilmiah SINTEX-F dalam memprediksi fenomena iklim global seperti El Niño dan Indian Ocean Dipole, yang berdampak langsung pada sektor pertanian dan perikanan. Sementara itu, Dr. Fadli menekankan pentingnya mengintegrasikan hasil prakiraan tersebut ke dalam perencanaan lintas sektor di Indonesiadengan menghubungkan pertanian, perikanan, pengelolaan air, dan kesehatan Masyarakat untuk membangun ketahanan terhadap variabilitas iklim. Dialog ini menegaskan nilai kolaborasi internasional dan kebijakan berbasis sains dalam memastikan sistem pangan yang berkelanjutan, baik di pusat-pusat perkotaan maupun komunitas di pulau-pulau kecil.

SINTEX-F (Scale Interaction Experiment – Frontier)
Di awal abad ke-21, dunia menghadapi tantangan besar: bagaimana membaca denyut nadi iklim yang semakin tak menentu. Dari Jepang hingga Eropa, sekelompok ilmuwan visioner bersatu dalam sebuah orkestra kolaborasi internasional. Hasilnya adalah lahirnya SINTEX-F (Scale Interaction Experiment – Frontier), sebuah sistem prediksi iklim musiman berbasis superkomputer yang mampu melihat jauh ke depan.
Di pusat pengembangan, berdiri Prof. Toshio Yamagata bersama tim di JAMSTEC (Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology). Namun keberhasilan SINTEX-F tidak bisa dilepaskan dari peran Dr. Swadhin K. Behera, yang bersama Yamagata pertama kali mengidentifikasi dan menjelaskan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD). Dr. Behera kemudian mengintegrasikan fenomena ini ke dalam SINTEX-F, sehingga model mampu memprediksi dampak iklim regional di Asia, Afrika, dan Australia.
Kolaborasi ini diperkuat oleh jejaring ilmuwan internasional: Doi, Morioka, Luo, Sasaki, Sebastien Masson, serta mitra dari INGV/CMCC Italia dan L’OCEAN Prancis. Mereka menjembatani data, teori, dan aplikasi nyata bagi masyarakat dunia. Lebih dari sekadar model, SINTEX-F adalah simbol persatuan ilmu pengetahuan. Ia menunjukkan bahwa ketika ilmuwan lintas negara bergandengan tangan, lahirlah sebuah alat yang bukan hanya memprediksi, tetapi juga memberi harapan: harapan untuk mitigasi bencana, perencanaan pertanian, dan kebijakan lingkungan yang lebih bijak.

Perencanaan dan Produktivitas Tanaman Pertanian
Ketahanan pangan Indonesia sangat sensitif terhadap iklim: fluktuasi curah hujan dan tekanan panas telah mengganggu hasil panen padi, ketersediaan air, dan perencanaan musiman. Prakiraan musiman dapat memandu tanggal penanaman, pemupukan, pestisida, pilihan tanaman, keputusan sistem irigasi, optimalisasi panen, dan lainnya.
Sejak dahulu, petani selalu menatap langit. Mereka membaca awan, merasakan angin, dan menebak kapan hujan akan turun. Langit ibarat sebuah kitab yang terbuka, tetapi sering kali penuh teka-teki. Kini, dengan hadirnya SINTEX-F, sains memberi mata baru untuk membaca dan menafsirkan kitab itu dengan lebih jelas. SINTEX-F adalah jembatan antara langit dan ladang. Ia mampu menangkap bisikan samudra dan atmosfer, lalu menerjemahkannya menjadi ramalan iklim musiman: kapan El Niño akan datang, bagaimana La Niña akan memengaruhi hujan, atau kapan Indian Ocean Dipole akan mengubah aliran air.
Bagi petani, informasi ini adalah kompas kehidupan. Dengan sains, mereka tidak lagi sekadar menebak, tetapi bisa menanam dengan keyakinan. Benih ditabur pada waktu yang tepat, air dialirkan sesuai kebutuhan musim, panen direncanakan dengan lebih pasti. SINTEX-F menjadikan pertanian bukan hanya kerja keras, tetapi juga kerja cerdas. Ia mengubah ketidakpastian menjadi harapan, dan menjadikan setiap tetes hujan serta sinar matahari sebagai bagian dari simfoni yang bisa direncanakan. Kini, petani tidak hanya membaca langit dengan mata dan hati, tetapi juga dengan sains yang berpihak pada kehidupan.
Sektor Perikanan dan Akuakultur
Sejak dahulu, nelayan Indonesia berlayar dengan berbekal intuisi. Mereka membaca arah angin, mendengar bisikan ombak, dan menebak di mana ikan akan berkumpul. Laut adalah sahabat sekaligus misteri, penuh rahasia yang tak selalu bisa ditebak. SINTEX-F, sains memberi nelayan mata baru untuk membaca ombak. Sistem prediksi iklim musiman ini menangkap denyut samudra dan atmosfer, lalu menerjemahkannya menjadi pengetahuan: kapan El Niño akan mengubah arus, bagaimana La Niña akan memengaruhi suhu laut, atau kapan Indian Ocean Dipole (IDO) akan membawa limpahan atau kekurangan ikan.
Bagi nelayan dan pembudidaya ikan, informasi ini adalah kompas kehidupan, dimana perahu berlayar dengan lebih pasti, karena arah migrasi ikan bisa diprediksi, kolam budidaya lebih terjaga, karena suhu dan curah hujan dapat diantisipasi. Risiko gagal panen berkurang, karena sains memberi peringatan sebelum badai datang. SINTEX-F menjadikan laut bukan sekadar ruang tak terduga, tetapi kitab yang bisa dibaca melalui sains. Dengan itu, nelayan tidak lagi hanya bergantung pada firasat, melainkan dapat bekerja dengan keyakinan. Dari perpaduan itu lahirlah keberlanjutan ekosistem laut, produktivitas yang lebih tinggi, dan masa depan pesisir yang lebih terjamin.

Dampak Perubahan Iklim Musiman pada Kesehatan Masyarakat dan Ketersediaan Air
Dampak perubahan iklim musiman semakin dirasakan masyarakat Indonesia. Gelombang panas dan kekeringan memicu peningkatan penyakit terkait panas serta memperburuk penyebaran malaria dan demam berdarah akibat perubahan populasi nyamuk. Sementara itu, banjir dan hujan lebat meningkatkan risiko diare dan penyakit berbasis air karena kontaminasi pasokan minum.
Selain kesehatan, Indonesia juga menghadapi tantangan besar dalam ketahanan air nasional. Variabilitas iklim mengubah karakteristik monsun, memperburuk keterbatasan irigasi, dan meningkatkan persaingan antara kebutuhan pertanian, air minum, dan sanitasi. Sungai sebagai nadi pengelolaan air kini semakin bergantung pada prakiraan iklim musiman untuk mengatasi kelangkaan, mengelola banjir, dan mendukung sektor pertanian.
Prakiraan yang tepat waktu dinilai penting untuk mendukung deklarasi kekeringan dini dan memperkuat langkah konservasi air sebelum puncak permintaan. Integrasi sains iklim dalam kebijakan publik menjadi kunci menjaga kesehatan masyarakat sekaligus keberlanjutan sumber daya air di tengah iklim yang kian ekstrem.

SINTEX-F Sebagai Kompas Strategis Ketahanan Pangan Nasional
Pemerintah perlu didorong untuk mengintegrasikan sistem prakiraan iklim musiman SINTEX-F ke dalam program ketahanan pangan nasional. Model iklim berbasis sains ini dinilai mampu memperkuat perencanaan lintas sektor sekaligus mengurangi risiko akibat perubahan iklim. Para pakar menekankan bahwa SINTEX-F dapat mendukung penyuluhan pertanian adaptif, membantu petani menentukan kalender tanam dan memilih varietas tahan iklim. Di sektor perikanan, prakiraan suhu laut dan arus memberi panduan bagi nelayan untuk melaut dengan aman.
Selain itu, data SINTEX-F dapat digunakan untuk penganggaran preventif, seperti memperkuat irigasi dan waduk sebelum musim kering panjang, serta mendukung deklarasi dini kekeringan atau banjir. Integrasi ke dalam kebijakan nasional, termasuk peta jalan Ekonomi Biru, diyakini akan memastikan langkah adaptasi iklim menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan. Dengan strategi ini, Indonesia diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada impor pangan darurat dan menekan biaya ekonomi akibat iklim, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari kota besar hingga pulau-pulau kecil. Indonesia perlu menyerukan tentang pentingnya kolaborasi internasional dalam mengembangkan aplikasi sains iklim seperti SINTEX-F. Melalui berbagi pengetahuan, teknologi, dan praktik terbaik, negara-negara dapat bersama-sama menjaga sistem pangan, melindungi komunitas yang rentan, serta membangun ketahanan menghadapi tantangan iklim yang semakin kompleks.*HH**

