Dengan penuh rasa hormat dan ketulusan, Kami menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah bekerjasama dan berjibaku dalam penanggulangan bencana di Sumatera, mulai dari aparat pemerintah, TNI dan Polri, Kementerian/Lembaga, relawan kemanusiaan, organisasi masyarakat sipil, hingga warga lokal yang dengan keberanian dan solidaritasnya bahu-membahu menyelamatkan sesama. Dedikasi, pengorbanan, dan keteguhan hati mereka menjadi bukti nyata bahwa di tengah derita dan kehancuran, semangat gotong royong dan kepedulian masih menjadi kekuatan utama bangsa ini.
Teguran yang Berulang
Alam adalah sebuah ekosistem yang presisi. Setiap unsur, dari partikel tanah, tetes air, hembusan angin, hingga denyut kehidupan makhluk, semua tersusun dalam harmoni yang tak pernah keliru. Ia bekerja dengan hukum keseimbangan yang halus, di mana setiap gerak memiliki makna, dan setiap perubahan membawa konsekuensi. Namun, manusia sering lupa bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari simfoni besar itu. Ketika keserakahan menguasai, keseimbangan terganggu, dan alam merespon dengan tegas. Banjir, longsor, kebakaran hutan, dan badai bukan sekadar bencana, melainkan bahasa alam yang menegur ketidakbijakan manusia. Alam tidak pernah marah, ia hanya menegakkan hukum keseimbangannya, seperti timbangan yang kembali ke titik tengah, ia mengembalikan harmoni dengan cara yang kadang menyakitkan bagi manusia. Teguran itu bukan hukuman, melainkan pengingat bahwa keberadaan kita bergantung pada kebijaksanaan dalam menjaga keseimbangan.
Presisi Alam Dalam Kearifan Nusantara
Pepatah Minangkabau “Alam takambang jadi guru” mengandung filosofi mendalam bahwa alam yang terbentang adalah sumber pengetahuan sekaligus pedoman moral bagi manusia; setiap gunung, sungai, hutan, dan laut bukan sekadar lanskap, melainkan teks kehidupan yang harus dibaca dengan kebijaksanaan. Dalam pandangan ini, manusia dituntut untuk menyesuaikan tindakannya dengan hukum keseimbangan alam, sebab setiap pelanggaran terhadap harmoni akan berbuah konsekuensi yang tegas. Alam mengajarkan kesabaran melalui siklus musim, keteguhan melalui batu karang, dan kerendahan hati melalui aliran sungai yang selalu mencari muara. Dengan menjadikan alam sebagai guru, masyarakat Minangkabau menegaskan bahwa pembangunan, budaya, dan kehidupan sehari-hari hanya akan berkelanjutan bila selaras dengan prinsip ekologis yang presisi, sehingga manusia tidak sekadar hidup di atas bumi, tetapi hidup bersama bumi dalam harmoni.
Prinsip Jawa “Hamemayu Hayuning Bawana” menegaskan bahwa tugas manusia bukan sekadar bertahan hidup, melainkan memperindah dan menjaga kesejahteraan dunia sebagai wujud tanggung jawab kosmik. Dalam pandangan ini, manusia dipanggil untuk menjadi penjaga harmoni, memastikan bahwa setiap tindakan pembangunan, budaya, dan interaksi sosial senantiasa memperkuat keseimbangan alam semesta. Dunia bukan hanya ruang fisik, melainkan tatanan spiritual dan ekologis yang harus dirawat agar tetap indah dan sejahtera. Dengan demikian, Hamemayu Hayuning Bawana menjadi etika hidup yang menuntun manusia untuk rendah hati di hadapan alam, bijak dalam mengelola sumber daya, serta berkomitmen pada keberlanjutan demi generasi mendatang.
Falsafah Maluku “Sasi” mencerminkan kebijaksanaan ekologis yang mendalam, di mana masyarakat adat menetapkan aturan untuk memberi waktu bagi laut dan hutan beristirahat agar keseimbangan tetap terjaga. Praktik ini bukan sekadar larangan mengambil hasil alam, melainkan sebuah mekanisme sosial dan spiritual yang menegaskan bahwa manusia harus tunduk pada siklus alam. Dengan Sasi, laut diberi kesempatan memulihkan ikan dan biota, hutan diberi ruang untuk kembali subur, dan masyarakat belajar menahan diri demi keberlanjutan bersama. Nilai yang terkandung dalam Sasi adalah pengakuan bahwa alam memiliki hak untuk beristirahat, dan manusia hanya bisa hidup sejahtera bila menghormati ritme ekologis tersebut. Filosofi ini menempatkan keseimbangan sebagai inti kehidupan, menjadikan Sasi bukan hanya aturan adat, tetapi juga etika universal tentang bagaimana manusia seharusnya berhubungan dengan alam.
Semua ini menunjukkan bahwa Nusantara memiliki tradisi panjang dalam membaca pesan alam. Namun, modernisasi yang abai terhadap kearifan ini membuat kita kehilangan kompas moral dalam berhubungan dengan lingkungan. Kearifan Nusantara menegaskan bahwa alam adalah guru, maka pesan filosofisnya jelas: manusia harus kembali rendah hati, menjaga keseimbangan, dan menempatkan diri bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai penjaga kehidupan.
Membaca Pesan Alam, Menata Masa Depan
Alam adalah guru yang presisi. Ia mengajarkan bahwa setiap gangguan akan berbalik menjadi konsekuensi. Manusia bijak adalah mereka yang membaca pesan alam, yang memahami bahwa keberlanjutan bukan sekadar jargon, melainkan syarat untuk bertahan hidup. Menjaga hutan berarti menjaga paru-paru bumi. Merawat sungai berarti merawat aliran kehidupan. Menghormati laut berarti menghormati sumber pangan dan energi masa depan.**

